Senin, 20 April 2015

[033] Al Ahzab Ayat 014

««•»»
Surah Al Ahzab 14

وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِمْ مِنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا الْفِتْنَةَ لَآتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا بِهَا إِلَّا يَسِيرًا
««•»»
walaw dukhilat 'alayhim min aqthaarihaa tsumma su-iluu alfitnata laaatawhaa wamaa talabbatsuu bihaa illaa yasiiraan
««•»»
Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad {1207}, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.
{1207} Yang dimaksud dengan berbuat fitnah Ialah: murtad, atau memerangi orang Islam.
««•»»
Had they been invaded from its flanks[1] and had they been asked to apostatize, they would have done so with only a mild hesitation,
[1] That is, of the city Madīnah.
««•»»

Ayat ini menerangkan, kelemahan hati dan keyakinan orang-orang munafik dan Yahudi yang sedang menerima cobaan Allah itu. Mereka tidak sanggup mengatasi kesukaran-kesukaran yang sedang mereka hadapi, tidak sanggup menghadapi bahaya dan ancaman yang datang kepada mereka, sehingga mereka meminta kepada Rasulullah saw agar diizinkan meninggalkan medan pertempuran.

Keadaan hati dan keyakinan mereka itu dilukiskan Allah SWT sebagai berikut: "Seandainya tentara bersekutu itu memasuki rumah-rumah orang munafik dan Yahudi itu dari segenap penjuru, merusak dan merampas apa yang ada di dalamnya, menganiaya dan membunuh anak-anak dan keluarga mereka, kemudian tentara bersekutu itu meminta kepada mereka agar kembali memeluk agama syirik dan mengadakan keonaran serta menghantam kaum Muslimin dari belakang, tentulah mereka membiarkan tindakan musuh itu dan mengikuti segala yang mereka kehendaki, akibat ketakutan dan tidak adanya Cita-cita dalam hati mereka, kecuali mencari kesenangan duniawi dan keuntungan pribadi belaka.

Dari ayat ini dipahami bahwa ketakutanlah yang merupakan sebab, sehingga orang-orang munafik dan Yahudi itu tidak mempunyai pendirian. Ketakutan itu timbul di dalam hati mereka karena tidak ada keimanan sedikitpun. Padahal jika mereka pikir benar-benar dan menimbang untung ruginya, mereka lebih selamat jika mereka mengikuti peperangan.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Kalau diserang) kota Madinah (dari segala penjuru) dari segala arahnya (kemudian diminta kepada mereka) yakni mereka diminta oleh orang-orang yang menyerang mereka (supaya murtad) supaya musyrik (niscaya mereka mengerjakannya) niscaya mereka menuruti kemauannya; lafal ayat ini huruf hamzahnya dapat dibaca panjang sehingga bacaannya menjadi la-aatauhaa dan dapat dibaca pendek sehingga bacaannya menjadi la-atauhaa (dan mereka tidak akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat).
««•»»
And had they been invaded in it, namely, Medina, from all sides and had they been exhorted, in other words, had the invaders exhorted them, to treachery, [a return to] idolatrous ways, they would have committed it (read la-ātawhā, or la-atawhā, meaning, ‘they would have offered it’, or ‘they would have committed it’ [respectively]) and would have hesitated thereupon but a little.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 13][AYAT 15]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
14of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=14&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#33:14

[033] Al Ahzab Ayat 013

««•»»
Surah Al Ahzab 13

وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا
««•»»
wa-idz qaalat thaa-ifatun minhum yaa ahla yatsriba laa muqaama lakum fairji'uu wayasta/dzinu fariiqun minhumu alnnabiyya yaquuluuna inna buyuutanaa 'awratun wamaa hiya bi'awratin in yuriiduuna illaa firaaraan
««•»»
Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu". Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)". Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.
««•»»
And when a group of them said, ‘O people of Yathrib! [This is] not a place for you,{1] so go back!’[2] And a group of them sought the Prophet’s permission, saying, ‘Our homes lie exposed[3] [to the enemy],’ although they were not exposed. They only sought to flee.
[1] That is, there is no chance of your withstanding the army of the polytheists.
[2] That is, return to your earlier creed, or go back to your homes.
[3] Or ‘unprotected.’
««•»»

Di antara mereka seperti Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya, ada pula yang mengatakan: "Hai penduduk kota Madinah, tempat ini bukanlah tempat yang harus kita tempati, maka kembalilah ke rumahmu masing-masing, agar kamu tidak ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta tidak mati terbunuh oleh musuh-musuh yang sedang mengepung itu.

Sebagian ahli tafsir ada yang menafsirkan: "Hai penduduk Madinah, tidak ada tempat bagi kamu sekalian, untuk tetap menganut agama Muhammad, kembalilah kamu kepada agamamu dahulu, dan serahkanlah Muhammad dan pengikut-pengikutnya kepada musuh-musuhnya yang sedang mengepung itu, sehingga keselamatan kamu semua terjamin".

Karena perkataan dan ajakan-ajakan pemimpin-pemimpin munafik dan Yahudi itu maka sebagian dari mereka ada yang terpengaruh dan mereka meminta kepada Nabi saw agar dapat meninggalkan medan perang dan kembali ke rumah mereka. Di antara yang meminta itu ialah Bani Harisah. Alasan yang mereka kemukakan ialah rumah-rumah mereka berada di tempat yang berdekatan dengan pangkalan-pangkalan pasukan musuh sedang dindingnya tidak kuat, mereka khawatir musuh akan mengambil harta benda mereka".

Pada akhir ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa semua alasan-alasan yang dikemukakan oleh orang-orang munafik dan Yahudi adalah alasan-alasan yang dibuat-buat saja. Alasan-alasan itu mereka kemukakan semata-mata untuk menghindarkan diri dari ikut berperang beserta Nabi dan kaum Muslimin, karena mereka tidak melihat suatu keuntungan yang akan mereka peroleh.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan ketika berkata segolongan di antara mereka) yakni orang-orang munafik ("Hai penduduk Yatsrib!) Yatsrib adalah nama kedua kota Madinah; tidak menerima tanwin karena `illat `alamiyah dan wazan fi`il (Tidak ada tempat bagi kalian) dapat dibaca muqaama dan maqaama, artinya tidak ada tempat tinggal bagi kalian (maka kembalilah kalian") ke tempat-tempat tinggal kalian di Madinah, yang pada waktu itu kaum Muslimin telah berangkat keluar bersama dengan Nabi saw. ke salah satu lereng bukit di luar kota Madinah untuk menyambut kedatangan musuh. (Dan sebagian dari mereka minta izin kepada nabi) untuk kembali pulang (seraya berkata, "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.") Tidak ada penjaganya sehingga keadaannya sangat mengkhawatirkan. Maka Allah swt. berfirman: (Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, tidak lain) (mereka hanya hendak lari) dari medan perang.
««•»»
And when a party of them, namely, the hypocrites, said, ‘O people of Yathrib!, namely, the region of Medina (it [Yathriba] is a diptote because of its being a proper noun and because of the [morphological similarity it bears to a] verbal form) there is not a stand [possible] (read muqām or maqām) for you [here], in other words, no place to stay and no [strategic] position, so turn back, to your dwellings in Medina — they had set out with the Prophet (s) towards the foot of a mountain outside Medina for battle. And a group of them [even] sought the permission of the Prophet, to turn back, saying, ‘Our homes are exposed, unprotected and we fear for them’. God, exalted be He, says: although they were not exposed. They only sought to flee, from battle.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 12][AYAT 14]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
13of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=13&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#33:13

[033] Al Ahzab Ayat 012

««•»»
Surah Al Ahzab 12

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
««•»»
wa-idz yaquulu almunaafiquuna waalladziina fii quluubihim maradhun maa wa'adanaa allaahu warasuuluhu illaa ghuruuraan
««•»»
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya".
««•»»
And when the hypocrites were saying, as well as those in whose hearts is a sickness, ‘Allah and His Apostle did not promise us [anything] except delusion.’
««•»»

Dalam ayat ini diterangkan hasil ujian Allah SWT kepada kaum Muslimin itu, dengan tercetusnya perkataan orang-orang munafik seperti Mu'attib bin Qusyair dan orang-orang yang lain yang masih lemah imannya: "Semua yang dijanjikan Allah dan Rasul Nya kepada kita, seperti akan mendapat kemenangan, memperoleh kebahagiaan hidup, dan sebagainya tidak lain hanyalah tipu daya dan janji-janji kosong saja bahkan janji itu menimbulkan kesengsaraan dan malapetaka bagi kita semuanya.

Muhammad mengatakan bahwa kerajaan Persia dan Romawi akan takluk ke bawah kekuasaan kaum Muslimin, tetapi kenyataannya sekarang. kaum Muslimin yang akan menaklukkan itu sedang dikepung rapat oleh tentara yang bersekutu dan akan mengalami kehancuran dan kemusnahan".

Menurut riwayat, Tu'mah dan Ubairiq dan tujuh puluh orang yang lain mengatakan: "Bagaimana pula yang dijanjikan kepada kita, penaklukkan kerajaan Persia dan Romawi, padahal pada saat ini untuk buang air besar saja tidak seorangpun di antara kita yang sanggup". Ucapan ini sengaja mereka lontarkan tatkala mereka mendengar berita tentang peristiwa yang terjadi di waktu Rasulullah menggali parit dan mencangkul batu yang memancarkan cahaya sebagaimana yang telah diterangkan. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan) ingatlah (ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata) yakni penyakit lemah keyakinannya: ("Allah dan rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami) akan mendapat pertolongan Allah (melainkan tipu daya.") kedustaan belaka.
««•»»
And, mention, when the hypocrites, and those in whose hearts is sickness, namely, weakness of conviction, were saying, ‘What God and His Messenger promised us, of assistance [to victory], was [nothing] but delusion’, falsehood.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Muslim, Imam Tirmizi dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Anas r.a yang menceritakan, bahwa pamannya yang bernama Anas ibnu Nadhr tidak ikut perang Badar karena sedang tidak di tempat tinggalnya. Setelah ia mendengar perang Badar lalu ia bertakbir, seraya mengatakan, "Perang Sabilillah pertama yang dialami oleh Rasulullah saw. aku tidak sempat mengikutinya.

Sungguh, seandainya Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk menyaksikan dan ikut perang Sabilillah yang lain, niscaya Allah akan melihat apa yang akan kulakukan di situ". Akhirnya dalam perang Uhud ia ikut; kemudian ia berperang dengan gagah dan berani, sehingga ia gugur sebagai syuhada. Ketika ia ditemukan ternyata pada tubuhnya terdapat delapan puluh lebih luka-luka bekas pukulan pedang, tusukan tombak dan panah-panah yang mencabik-cabik tubuhnya.

Kemudian turunlah ayat ini berkenaan dengannya, yaitu firman-Nya,
"Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah..."
(QS. Al Ahzab [33]:23)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 11][AYAT 13]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
12of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=12&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#33:12

Rabu, 08 April 2015

[033] Al Ahzab Ayat 011

««•»»
Surah Al Ahzab 11

هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا
««•»»
hunaalika ibtuliya almu-minuuna wazulziluu zilzaalan syadiidaan
««•»»
Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.
««•»»
it was there that the faithful were tested and jolted with a severe agitation.
««•»»

Dengan keadaan demikian Allah SWT pasti menguji kekuatan iman orang-orang yang beriman, sehingga nyata mana yang benar-benar beriman, yang memurnikan ketaatan hanya kepada Allah saja dan percaya bahwa Muhammad saw adalah Rasul Allah serta percaya pula akan kemenangan Islam dan kaum Muslimin, mana yang goyah dan rapuh imannya, yang mengikuti Rasulullah hanya semata-mata hendak mencari keuntungan diri mereka saja. Seakan-akan peperangan Ahzab ini merupakan suatu seleksi bagi kaum Muslimin, tentang siapa yang benar-benar kawan dan siapa yang sungguh-sungguh lawan.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Di situlah diuji orang-orang Mukmin) mereka mendapat cobaan supaya menjadi jelas, siapakah orang Mukmin yang benar-benar dan siapakah yang gadungan (dan hati mereka diguncang) berdegup-degup (dengan guncangan yang sangat) disebabkan ketakutan yang sangat mencekam mereka.
««•»»
it was there that the believers were [sorely] tried, [there] they were tested, to distinguish the sincere individual from the one otherwise, and were shaken with a mighty shock, because of the severity of the terror.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 10][AYAT 12]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#33:11

[033] Al Ahzab Ayat 010

««•»»
Surah Al Ahzab 10

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ
««•»»
idz jaauukum min fawqikum wamin asfala minkum wa-idz zaaghati al-abshaaru wabalaghati alquluubu alhanaajira watazhunnuuna biallaahi alzhzhunuunaa
««•»»
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan {1206} dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.
{1206} Maksudnya ialah menggambarkan bagaimana hebatnya perasaan takut dan perasaan gentar pada waktu itu.
««•»»
When they came at you from above and below you,[1] and when the eyes rolled [with fear] and the hearts leapt to the throats, and you entertained misgivings about Allah,
[1] That is, from the higher side of the valley, to the east of Madinah, and from the lower side of it towards the west.
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT mengetahui ketika tentara yang bersekutu datang dari bawah lembah, yaitu dari sebelah timur yang terdiri dari golongan Gatfan, penduduk Nejed dan ikut pula beserta mereka Bani Quraizah dan Bani Nadir, dan Allah SWT mengetahui pula kedatangan golongan yang bersekutu yang lain yang datang dari atas lembah dari sebelah barat yang terdiri dari orang-orang Quraisy dan pengikut-pengikutnya dari bermacam-macam suku dengan Bani Kinanah dan penduduk Tihamah. Dalam keadaan musuh mulai mengepung itu timbullah rasa takut dan gentar terutama dalam hati orang-orang munafik yang ikut bersama-sama kaum Muslimin.

Mata mereka terbelalak dan kerongkongan mereka terasa tersumbat akibat ketakutan, dan timbul dalam hati mereka waswas, ragu-ragu dan berbagai prasangka. Bahkan di antara mereka ada yang telah menduga bahwa kaum Muslimin akan dikalahkan oleh tentara sekutu yang bersekutu, mengingat jumlah mereka yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah kaum Muslimin.

Adapun orang-orang yang beriman mereka percaya benar akan terjadi janji Allah, bahwa Rasulullah saw dan kaum Muslimin akan memenangkan peperangan itu, dan pertolongan Allah pasti datang, serta mereka percaya benar akan kekuasaan dan kebesaran Allah. Sedang orang-orang munafik berprasangka bahwa kaum Muslimin dan agama Islam akan hancur dan binasa. Kaum musyrik Mekah akan menaklukkan kota Madinah dan mengembalikannya kepada keadaan masa Jahiliah.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Yaitu ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian) dari lembah bagian atas dan bawah, datang dari arah timur dan barat (dan ketika tidak tetap lagi penglihatan) perhatiannya hanya tertuju kepada musuh saja yang datang dari berbagai penjuru (dan hati kalian naik menyesak sampai tenggorokan) lafal hanaajir bentuk jamak dari lafal hanjarah, artinya adalah tenggorokan, diungkapkan demikian karena takut yang amat sangat (dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam sangkaan) dengan berbagai macam prasangka, apakah mendapat pertolongan ataukah tidak, sehingga putus harapan dari pertolongan-Nya.
««•»»
When they came at you from above you and from below you, in other words, from the higher side of the valley and from its lower side, from the east and from the west, and when the eyes turned away [in fear], from everything, to [gaze at] their enemies [approaching] from every side, and the hearts lept to the throats (hanājir, the plural of hunjura, which lies at the bottom of the gullet) out of intense fear, while you entertained all sorts of, different, thoughts concerning God, [some] of assistance, some of despair;
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 9][AYAT 11]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
10of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=10&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#33:10

[033] Al Ahzab Ayat 009

««•»»
Surah Al Ahzab 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا
««•»»
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu udzkuruu ni'mata allaahi 'alaykum idz jaa-atkum junuudun fa-arsalnaa 'alayhim riihan wajunuudan lam tarawhaa wakaana allaahu bimaa ta'maluuna bashiiraan
««•»»
ai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni'mat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya {1205}. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.
{1205} Ayat ini menerangkan kisah AHZAB Yaitu golongan-golongan yang dihancurkan pada peperangan Khandaq karena menentang Allah dan Rasul-Nya. yang dimaksud dengan tentara yang tidak dapat kamu Lihat adalah Para Malaikat yang sengaja didatangkan Tuhan untuk menghancurkan musuh-musuh Allah itu.
««•»»
O you who have faith! Remember Allah’s blessing upon you when the hosts came at you, and We sent against them a gale and hosts whom you did not see. And Allah sees best what you do.
««•»»

Pada ayat ini Allah SWT mengingatkan kepada kaum Muslimin akan nikmat yang besar yang telah dilimpahkan Nya kepada mereka pada perang Ahzab, yaitu ketika mereka dikepung rapat oleh tentara yang bersekutu yang terdiri dari tentara kaum Quraisy, Bani Gatfan, Bani Nadir yang telah dibuang Rasulullah ke Khaibar dan tentara-tentara yang lain yang datang menyerang mereka ke Madinah.

Setelah sebulan mereka terkepung maka Allah menghalau musuh-musuh mereka itu dengan tentara malaikat dan topan yang amat dingin dan kencang di malam yang sangat dingin pula, sehingga menerbangkan kemah-kemah tentara itu. Pada waktu itu timbullah kegentaran dan ketakutan dalam hati musuh-musuh itu, sehingga salah seorang pemimpin mereka yang bernama Tulaihah bin Khawailid Al Asadi berkata: "Muhammad telah menyihir kamu, maka selamatkan dirimu, selamatkan dirimu!"

Dengan demikian maka perang Ahzab ini dimenangkan oleh kaum Muslimin tanpa terjadi pertempuran, karena musuh telah di halau oleh tentara malaikat dan topan angin dingin yang amat kencang itu.

Pada akhir ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Dia melihat dan mengetahui segala yang dikerjakan kaum Muslimin dalam perang Ahzab itu, seperti menggali parit, menyusun taktik dan strategi peperangan untuk menegakkan agama Nya, demikian pula segala penderitaan yang mereka alami selama sebulan dikepung musuh, tetapi semua penderitaan itu mereka hadapi dengan tabah dan sabar. Terhadap semua yang dikerjakan kaum Muslimin itu. Allah SWT akan memberi balasan yang berlipat ganda.

Pada ayat berikut ini digambarkan keadaan kaum Muslimin dan tentara yang bersekutu yang saling berhadap-hadapan itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara-tentara) orang-orang kafir yang bersekutu sewaktu perang Khandaq (lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang kalian tidak dapat melihatnya) yakni bala tentara malaikat. (Dan adalah Allah terhadap apa yang kalian kerjakan) kalau dibaca ta`maluuna yang dimaksud adalah bekerja menggali parit, dan kalau dibaca ya`maluuna yang dimaksud adalah mereka yang bersekutu yaitu kaum musyrikin (Maha Melihat.)
««•»»
O you who believe! Remember God’s favour to you when hosts, of disbelievers, came against you, as confederates, at the time the Ditch (al-khandaq) was being dug, and We unleashed against them a [great] wind and hosts, of angels, you did not see. And God is ever Seer of what you do (read ta‘malūna to imply ‘in the way of [your] digging of the ditch’; or read ya‘malūna, ‘[of what] they do’, to imply ‘the idolaters’ forming of a confederation’).

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Ibnu Abu Hatim dan Imam Baihaqi di dalam kitab Dalail keduanya mengetengahkan sebuah hadis melalui Kutsayyir ibnu Abdullah ibnu Amr Al Muzanni yang ia terima dari ayahnya, kemudian ayahnya menerimanya dari kakeknya. Kakek Kutsayyir menceritakan bahwa pada saat perang Ahzab Rasulullah saw. menggali parit. Maka Allah swt. mengeluarkan sebuah batu putih yang bundar bentuknya lagi sangat besar dari dalam perut bumi.

Kemudian Rasulullah saw. mengambil sebuah kapak pemecahan batu, lalu memukulkannya pada batu itu sekali pukul batu itu pecah dan dari pukulan itu keluar sinar yang menerangi antara dua batas kota Madinah. Setelah itu nabi bertakbir dan kaum Muslimin pun bertakbir pula. Kemudian Rasulullah saw. memukul batu itu untuk kedua kalinya; sehingga batu itu pecah lagi, dan dari pukulan itu keluar sinar yang menerangi apa yang ada di antara kedua batas kota Madinah. Setelah itu Rasulullah saw. bertakbir, dan kaum Muslimin pun ikut bertakbir pula.

Rasulullah saw. memukulnya lagi untuk yang ketiga kalinya sehingga batu itu pecah berantakan, dari pukulan itu keluar sinar yang menerangi apa yang ada di antara kedua batas kota Madinah, maka Rasulullah saw. bertakbir dan kaum Muslimin pun ikut bertakbir pula.

Setelah itu Rasulullah saw. ditanyai mengenai hal tersebut, beliau menjawab, "Sewaktu aku melakukan pukulan yang pertama, memancar sinar dari pukulanku itu yang cahayanya menerangi gedung-gedung kota Hairah dan kota-kota Kisra (Persia).

Kemudian malaikat Jibril memberitahukan kepadaku, bahwa kelak umatku akan menguasai tempat-tempat tersebut. Dan pada pukulan yang kedua, muncul pula sinar yang cahayanya menerangi gedung-gedung milik orang-orang Romawi, kemudian malaikat Jibril memberitahukan kepadaku, bahwa kelak umatku akan menguasainya. Dan pada pukulan yang ketiga membersit sinar daripadanya yang menerangi gedung-gedung kota Shan'a, dan malaikat Jibril memberitahukan kepadaku, bahwa kelak umatku akan menguasainya".

Orang-orang munafik pada saat itu mengatakan, "Apakah kalian tidak heran, dia (Nabi Muhammad) berbicara dengan kalian dengan memberikan harapan dan janji yang batil, dan memberitahukannya kepada kalian, bahwa dia dapat melihat gedung-gedung kota Hairah dan kota-kota raja Kisra dari kota Yatsrib ini, dan ia mengatakan, bahwa kota-kota tersebut kelak akan dikuasai oleh kalian. Dan sesungguhnya kalian hanyalah sedang menggali parit, sungguh tidak masuk akal, niscaya kalian tidak akan mampu untuk menang".

Lalu turunlah ayat Alquran, yaitu firman-Nya,
"Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya'...".
(QS. Al Ahzab [33]:12)

Juwaibir mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Mu'tib ibnu Qusyayyir Al Anshari; dialah yang mengatakan perkataan tersebut.

Ibnu Ishaq mengetengahkan sebuah hadis, demikian pula Imam Baihaqi yang kedua-duanya melalui Urwah ibnu Zubair, Muhammad ibnu Kaab Al Qurazhi dan lain-lainnya, bahwa Mu'tib ibnu Qusyayyir pernah mengatakan, "Muhammad bermimpi bahwa ia dapat meraih perbendaharaan kerajaan Kisra dan kerajaan Kaisar Romawi, sedangkan salah seorang dari kita masih belum merasa aman (dari musuh) bila pergi membuang hajat besarnya".

Aus ibnu Qaizhi berkata di tengah-tengah segolongan kaumnya, "Sesungguhnya rumah-rumah kita dalam keadaan tidak terjaga; rumah-rumah kami berada di luar kota Madinah, maka izinkanlah kami untuk kembali kepada istri-istri dan anak-anak kami".

Lalu Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya sewaktu kaum Muslimin dicekam oleh rasa takut terhadap musuh, yaitu untuk mengingatkan mereka akan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka dan perlindungan-Nya kepada diri mereka, yang sebelumnya mereka mempunyai prasangka yang buruk dan sesudah orang-orang munafik mengembus-embuskan berita dusta yang menakutkan mereka.

Firman Allah swt. itu sebagai berikut,
"Hai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara-tentara..."
(QS. Al Ahzab [33]:9)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#33:9

[033] Al Ahzab Ayat 008



««•»»
Surah Al Ahzab 8

لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا
««•»»
liyas-ala alshshaadiqiina 'an shidqihim wa-a'adda lilkaafiriina 'adzaaban aliimaan
««•»»
Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka {1204} dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.
{1204} Pada hari kiamat Allah akan menanyakan kepada Rasul-rasul sampai di mana usaha mereka menyampaikan ajaran-ajaran Allah kepada umatnya dan sampai di mana umatnya melaksanakan ajaran Allah itu.
««•»»
so that He may question the truthful concerning their truthfulness. And He has prepared for the faithless a painful punishment.
««•»»

Pada ayat ini Allah SWT menerangkan apa sebab Dia mengambil janji yang kuat dari para Nabi untuk menyampaikan agama Allah kepada manusia, dan untuk saling menolong di antara mereka.

Dengan saling mengatakan kepada umatnya bahwa mereka semua adalah Rasul Allah. Sebabnya ialah agar Allah dapat menanyakan kepada para Nabi itu di akhirat nanti tugas yang diberikan kepada mereka, apakah mereka telah menjalankannya dengan baik, atau belum, dan bagaimana sambutan umat-umat mereka terhadap seruan mereka itu.

Demikian pula agar Allah dapat menanyakan kepada umat-umat itu sendiri di akhirat nanti, tentang sikap mereka terhadap seruan para Rasul.

Dengan demikian Allah menyediakan azab yang pedih bagi orang-orang yang mengingkari seruan para Rasul, sebagaimana Dia menyediakan pahala yang besar bagi orang-orang yang memperkenankan seruan para Rasul itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Agar Dia menanyakan) yakni Allah (kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka) di dalam menyampaikan risalahnya; hal ini dimaksudkan sebagai celaan terhadap orang-orang yang kafir kepada para nabi (dan Dia menyediakan) yakni Allah swt. (bagi orang-orang kafir) terhadap para nabi (siksa yang pedih) yang menyakitkan. Lafal wa a`adda diathafkan pada lafal akhadznaa.
««•»»
that He, God, may question the truthful about their truthfulness, in delivering the Message, as a way thereby to [justifiably] reproach the disbelievers; and He, exalted be He, has prepared for those who disbelieve, in them, a painful chastisement (‘adhāban alīman is a supplement to akhadhnā, ‘We took’).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 7][AYAT 9]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
8of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=8&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#33:8

[033] Al Ahzab Ayat 007

««•»»
Surah Al Ahzab 7

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
««•»»
wa-idz akhadznaa mina alnnabiyyiina miitsaaqahum waminka wamin nuuhin wa-ibraahiima wamuusaa wa'iisaa ibni maryama wa-akhadznaa minhum miitsaaqan ghaliizhaan
««•»»
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh {1203}.
{1203} Perjanjian yang teguh ialah kesanggupan menyampaikan agama kepada umatnya masing-masing.
««•»»
[Recall] when We took a pledge from the prophets, and from you and from Noah and Abraham and Moses and Jesus son of Mary, and We took from them a solemn pledge,
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa Dia telah menerima janji dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa bahwa mereka benar-benar akan menyampaikan agama Allah kepada manusia. dan bahwa mereka akan saling tolong menolong dalam menyampaikan risalab itu, yaitu dengan cara mengakui Nabi-nabi yang terdahulu dari mereka sebagai Nabi-nabi Allah.

Ayat ini senada dengan firman Allah SWT:
أخذ الله ميثاق النبيين لما ءاتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنن به ولتنصرنه قال ءأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadmu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian Ku terhadap yang demikian itu?". Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".
(QS. Ali Imran [3]:81)

Dalam ayat ini hanya disebutkan para Nabi yang termasuk "Ulul azmi", yaitu Muhammad, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, karena merekalah yang mempunyai syariat dan kitab.

Janji yang diberikan oleh para Nabi itu adalah janji yang kuat dan berat yang harus ditepati, karena di akhirat nanti Allah SWT akan menanyakan kepada umat-umatnya yang telah diutus kepadanya Rasul-rasul, dan Rasul-rasul sendiri akan ditanya pula kepada mereka tentang pelaksanaan tugas yang telah mereka janjikan itu.

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
فلنسئلن الذين أرسل إليهم ولنسئلن المرسلين
Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (kami).
(QS. Al A'raaf [7]:6)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan) ingatlah (ketika Kami mengambil dari nabi-nabi perjanjian mereka) ketika mereka dikeluarkan dari tulang sulbi Adam sebagaimana benda yang paling kecil layaknya. Lafal adz-dzurri bentuk jamak dari lafal dzurrah artinya semut yang paling kecil (dan dari kamu sendiri, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam) hendaknya mereka menyembah Allah dan menyeru supaya beribadah kepada-Nya. Disebutkannya kelima nabi ini termasuk mengathafkan sesuatu kepada bagiannya (dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh) janji yang sangat berat untuk melaksanakan apa-apa yang harus mereka pikul, yakni bersumpah atas nama Allah, kemudian perjanjian itu diambil oleh-Nya.
««•»»
And, mention, when We took a pledge from the prophets, at the point when they were brought forth from the loins of Adam, the size of atoms, and from you, and from Noah and Abraham and Moses and Jesus son of Mary, that they worship [only] God and call others to worship Him (the mention of the five [names] is an instance of supplementing the specific to the general). And We took from them a solemn pledge, a solid [one], that they fulfil what they have been charged with, and this was [effected] by [swearing] an oath to God, after which the pledge was consummated;
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 6][AYAT 8]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#33:7

[033] Al Ahzab Ayat 006

««•»»
Surah Al Ahzab 6

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
««•»»
alnnabiyyu awlaa bialmu/miniina min anfusihim wa-azwaajuhu ummahaatuhum wauluu al-arhaami ba'dhuhum awlaa biba'dhin fii kitaabi allaahi mina almu/miniina waalmuhaajiriina illaa an taf'aluu ilaa awliyaa-ikum ma'ruufan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraan
««•»»
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri {1201} dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik {1202} kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).
{1201} Maksudnya: orang-orang mukmin itu mencintai Nabi mereka lebih dari mencintai diri mereka sendiri dalam segala urusan.
{1202} Yang dimaksud dengan berbuat baik disini ialah Berwasiat yang tidak lebih dari sepertiga harta.
««•»»
The Prophet is closer to the faithful than their own souls,[1] and his wives are their mothers. The blood relatives are more entitled to inherit from one another in the Book of Allah[2] than the [other] faithful and Emigrants,[3] barring any favour you may do your comrades.[4] This has been written in the Book.
[1] Or ‘The Prophet has a greater right (or a greater authority) over the faithful than they have over their own selves.’
[2] That is, with respect to the right of inheritance.
[3] Or ‘The blood relations have a greater right to inherit from one another than the rest of the faithful and Emigrants.’
[4] That is, by making a bequest in their favour.
««•»»

Ayat ini menerangkan kedudukan Nabi Muhammad saw di antara umatnya. Diterangkan bahwa sekalipun orang-orang yang beriman itu mengutamakan diri mereka, tetapi Nabi Muhammad lebih banyak memperhatikan , mementingkan dan mengutamakan mereka. Nabi selalu menolong dan membantu mereka, selalu berkeinginan agar mereka menempuh jalan yang lurus yang dapat menyampaikan mereka kepada kebahagiaan yang abadi. Karena itu sebenarnya Nabi lebih berhak atas diri mereka sendiri, cinta Nabi kepada kaum Muslimin melebihi cinta beliau terhadap makhluk Allah manapun.

Karena itu hendaklah kaum Muslimin mengikuti segala perintahnya. Nabi adalah pemimpin kaum Muslimin yang memimpin mereka dalam kehidupan duniawi dan pemimpin mereka ke jalan Tuhan. Apabila beliau mengajak kaum Muslimin berperang di jalan Allah, hendaklah segera mereka ikuti, tidak perlu menunggu izin dari ibu bapak.

Hendaklah kaum Muslimin selalu bersedia ,menjadi tebusan, perisai dan pemelihara Nabi.

Mengenai sebab turunnya ayat ini diriwayatkan sebagai berikut:
أن النبي صلى الله عليه وسلم لما أراد غزوة تبوك أمر الناس بالتجهير والخروج فقال أناس منهم نستأذن أباءنا وأمهاتنا, فأنزل الله تعالى فيهم هذه الآية.
Bahwasannya Nabi saw, tatkala beliau bermaksud pergi berperang ke perang Tabuk, beliau menyuruh manusia menyiapkan segala yang diperlukan dan berangkat pergi berperang. Maka berkata sebagian manusia: "Kami akan minta izin lebih dahulu kepada bapak-bapak dan ibu-ibu kami. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini.
(Alusi, Rukhul Ma'ani Jilid 2, hal 151)

Pada hadis yang lain diterangkan tentang kepemimpinan Nabi terhadap kaum Muslimin:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ما من مؤمن إلا وأنا أولى الناس به في الدنيا والآخرة اقرءوا إن شئتم: (النبي أولى بالمؤمنين من أنفسهم) فأيما مؤمن ترك مالا, فالترثه عصبته من كانوا ومن ترك دينا أو ضياعا (عيالا) فاليأتني فأنا مولاه.
Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
"Tidak seorangpun dan orang-orang yang beriman, kecuali akulah yang paling dekat kepadanya di dunia dan di akhirat. Bacalah firman Allah, jika kamu sekalian menghendaki: "Nabi itu lebih diutamakan oleh orang-orang yang beriman dari diri mereka sendiri. Maka barangsiapa di antara orang-orang yang beriman (mati) dan meninggalkan harta, maka harta itu hendaknya diwarisi 'asabahnya (ahli warisnya). Dan barang siapa yang meninggalkan utang atau keluarga, maka hendaklah datang kepadaku, maka akulah orang yang akan mengurus keadaannya".
(H.R. Bukhari dari Abu Hurairah)

Berdasarkan ayat dan hadis di atas maka para ulama sependapat bahwa setelah Rasulullah meninggal dunia, maka imamlah yang menggantikan kedudukan beliau. Karena itu imam wajib membayar utang orang-orang fakir yang meninggal dunia, sebagaimana Rasulullah saw telah melakukannya. Imam membayar utang itu dengan mengambil dari Baitul Mal dari Kas Negara.

Karena itu Rasulullah saw adalah bapak dari kaum Muslimin, maka istri-istri beliaupun adalah ibu dari seluruh kaum Muslimin. Yang dimaksud dengan ibu di sini ialah menempati kedudukan ibu, dalam kewajiban memuliakan dan menghormatinya, dan haram menikahinya (hubungan mahram). Sedang dalam hal yang lain seperti hubungan waris mewarisi hukum melihat auratnya atau berkhalwat dengan dia, sama hukumnya dengan wanita lain yang ada hubungan mahram.

Prinsip ini tidaklah bertentangan dengan firman Allah:
ما كان محمد أبا أحد من رجالكم
Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang laki-lakimu.
(QS. Al Ahzab [33]:40)

Karena yang dimaksud ialah bahwa Nabi Muhammad itu adalah bapak dari seluruh orang-orang yang beriman, bukan bapak angkat dari seseorang.

Kemudian ayat ini menerangkan bahwa hubungan kerabat lebih berhak untuk menjadi sebab bagi mendapatkan warisan dari pada hubungan persaudaraan keagamaan atau karena berhijrah.

Sebagaimana diketahui para kaum Muslimin pada permulaan Islam di Madinah waris mewarisi dengan jalan persaudaraan yang dijalin oleh Nabi, bukanlah dengan dasar hubungan kerabat, karena itu seorang dari Muhajirin memperoleh pusaka dari seorang Ansar, sekalipun mereka tidak ada hubungan kerabat.Mereka itu pusaka mempusakai adalah semata-mata karena hubungan persaudaraan yang telah dijalin oleh Nabi.

Hubungan semacam itu dilakukan Nabi adalah karena orang-orang Muhajirin yang baru pindah dari Mukah ke Madinah dalam keadaan miskin, karena mereka tidak sempat membawa harta benda mereka dari Mekah, sedangkan orang-orang Ansar sebagai penduduk asli Madinah tentu sewajarnya menjadi penolong-penolong kaum Muhajirin yang miskin ini.

Waktu itu tugas utama kaum Muslimin ialah memperkuat persatuan antara kaum Muhajirin dengan kaum Ansar untuk menghadapi musuh yang selalu mencari kesempatan untuk menghancurkan mereka. Memperkuat hubungan antara Muhajirin dan Ansar adalah salah satu jalan untuk memperkuat persatuan itu. Maka Nabi saw memperkuat hubungan itu dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Ansar.

Persaudaraan itu dijadikannya sama dengan persaudaraan yang berdasar atas pertalian kerabat, sehingga antara Muhajirin dan Ansar dapat waris mewarisi. Karena itu Nabi mempersaudarakan Abu Bakar As Sidik, seorang Muhajirin dengan Khairiyah bin Zaid, seorang Ansar.

Demikian pula Zubair dipersaudarakan dengan Ka'ab bin Malik dan Umar bin Khattab dengan Utbah bin Malik Ansary, Abu 'Ubaidan dengan Saad bin Muaz dan lain-lain.

Diriwayatkan oleh Hisyam bin Urwah dari bapaknya, dari Zubair ia berkata:

Sesungguhnya kami seluruh orang Quraisy yang datang ke Madinah tanpa harta yang kami miliki mendapati golongan Ansar sebagai teman yang paling baik, maka kami mengadakan ikatan persaudaraan dengan mereka, dan saling berhak waris mewarisi. Maka Rasulullah saw mempersaudarakan Abu Bakar dengan Khairiyah bin Zaid, aku dengan Kaab bin Malik.

Setelah kaum Muslimin menjadi kuat dan orang Muhajirin serta orang-orang Ansar mempunyai kehidupan yang baik, maka turunlah ayat yang mengatakan hapusnya hukum persaudaraan seagama dan hijrah sebagai dasar waris mewarisi itu. Allah menetapkan hubungan kerabat sebagai dasar hukum warisan, sedang hubungan antara kaum Muslimin dikembalikan kepada kedudukan semula, yaitu hubungan seagama, sekeyakinan, tolong menolong yang tidak membawa kepada waris mewarisi.

Sebagaimana diterangkan dalam ayat:
إنما المؤمنون إخوة
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.
(QS. Al Hujuurat [49]:10)

Dalam hadis:
لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه.
Tidak beriman salah seorang kamu hingga ia menginginkan pada saudaranya apa yang diinginkannya pada dirinya sendiri.
(H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Nasai dari Anas r.a)

Selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa tidaklah berdosa seorang mukmin membuat suatu kebaikan kepada orang mukmin yang lain, yang telah terdapat antara, mereka hubungan kasih sayang, hubungan seagama dan sebagainya Kebaikan itu ialah berupa wasiat untuk mereka, karena tidak lagi berhak waris mewarisi dengan turunnya ayat ini. Kadar wasiat ini telah ditetapkan oleh hadis, yaitu tidal: lebih dari sepertiga harta peninggalan.

Menetapkan "ulul-arham" (kerabat) sebagai dasar hukum war's mewarisi itu adalah keputusan Allah yang ditetapkan di dalam Al Qur'an. Karena itu hukum tersebut tidak boleh ditukar atau diganti oleh siapapun.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukminin dari diri mereka sendiri) maksudnya apa yang diserukan oleh Nabi saw. agar mereka melakukannya, dan apa yang diserukan oleh hawa nafsu mereka agar mereka melanggarnya, maka seruan Nabilah yang harus lebih diutamakan daripada kehendak diri mereka sendiri (dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka) haram untuk dinikahi oleh mereka.

(Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah) yakni kaum kerabat (satu sama lain lebih berhak) waris-mewarisi (di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin) daripada waris-mewarisi berdasarkan saudara seiman dan berhijrah yang berlangsung pada permulaan Islam, kemudian dimansukh oleh ayat ini (kecuali) tetapi (kalau kalian mau berbuat baik kepada saudara-saudara kalian seagama) melalui wasiat, masih tetap diperbolehkan.

(Adalah yang demikian itu) yaitu dihapusnya hukum waris-mewarisi karena seiman dan hijrah dengan hubungan kekerabatan (telah tertulis di dalam Alkitab) Alkitab yang dimaksud di dalam dua tempat pada ayat ini adalah Lohmahfuz.

««•»»
The Prophet is closer to the believers than their [own] souls, in terms of what he calls them to and what their own souls have called them to contravene, and his wives are their mothers, insofar as they [the believers] are forbidden to marry them. And those related by blood, kinsmen, are more entitled, to inherit [from], one another in the Book of God than the [other] believers and the Emigrants, in other words, than inheriting on account of [their sharing] faith and the Emigration, which had been the case at the beginning of Islam but was then abrogated; barring any favour you may do your friends, by [making] a bequest, which is permissible. This, namely, the abrogation of inheritance on account of [shared] faith and Emigration by the inheritance on account of kinship, is written in the Book — in both instances al-kitāb, ‘the Book’, denotes the Preserved Tablet (al-lawh al-mahfūz).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 5][AYAT 7]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
6of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=6&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#33:6