««•»»بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
««•»»
bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi
««•»»
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
««•»»
In the Name of Allah, the All-beneficent, the All-merciful.
««•»»
Surah Al Ahzab 1
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
««•»»
yaa ayyuhaa alnnabiyyu ittaqi allaaha walaa tuthi'i alkaafiriina waalmunaafiqiina inna allaaha kaana 'aliiman hakiimaan
««•»»
Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,
««•»»
O Prophet! Be wary of Allah and do not obey the faithless and the hypocrites. Indeed Allah is all-knowing, all-wise.
««•»»
Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin agar bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-perintah-Nya dan menghentikan semua larangan-larangannya, serta melarang Nabi dan kaum Muslimin agar jangan menuruti keinginan-keinginan orang-orang kafir yang pernah menganjurkan kepada beliau agar mengusir dari majelisnya orang-orang mukmin yang lemah dan miskin , demikian pula ayat ini melarang Nabi dan orang-orang mukmin mengikuti orang-orang munafik yang lahirnya mengaku sebagai seorang mukmin, tetapi hatinya tetap kafir, bahkan selalu berusaha dan bekerja sama dengan orang-orang kafir yang lain untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin.
Sebab turunnya ayat menurut suatu riwayat, bahwa Abu Sofyan, Ikrimah bin Abu Jahal, Abul A'war As Sulami datang ke Madinah setelah perang Uhud. Mereka ditemani oleh Abdullah bin Ubay, Abdullah bin Sa'ad bin Abu Sarah dan Tu'mah bin Ubairiq. Mereka datang ke Madinah setelah mendapat jaminan keamanan dari Nabi Muhammad saw.
Mereka berkata kepada Rasulullah saw yang di sisinya duduk Umar bin Khatab: "Hendaklah kamu hentikan mencela tuhan-tuhan kami Al Lata, Al Uzza dan Manat dan katakanlah: "Sesungguhnya tuhan-tuhan itu dapat memberi syafaat dan manfaat kepada orang-orang yang menyembahnya, agar kami membiarkan kamu menyembah tuhanmu". Rasulullah saw sangat merasa berat untuk menerima permintaan mereka itu. Maka Umar bin Khatab berkata: "Izinkanlah aku Ya Rasulullah membunuh mereka itu".
Rasulullah saw berkata:
"Sesungguhnya aku telah memberikan jaminan keamanan kepada mereka".
berkata Umar: "Masukkanlah mereka ke dalam laknat dan kemarahan Allah".
Maka Rasulullah saw memerintahkan kepada mereka agar keluar dari Madinah dan turunlah ayat ini.
(Al Wahidi, Asbabunnuzul, hal 236).
Berdasarkan ayat ini dan sebab turunnya, yang dimaksud dengan "menurutkan keinginan orang-orang kafir dan munafik", ialah "menurutkan keinginan mereka agar kaum Muslimin mengakui kepercayaan dan tuhan-tuhan mereka, mempercayai bahwa tuhan-tuhan mereka dapat memberi syafaat dan manfaat kepada orang-orang yang menyembahnya, mengakui syariat-syariat mereka sebagaimana mengakui syariat yang diturunkan Allah". Hendaklah kaum Muslimin waspada terhadap segala usaha orang-orang kafir dan munafik yang sengaja mengaburkan dan merusak agama dan kepercayaan mereka, sehingga pemahaman mereka terhadap agama mereka menjadi menyimpang dari paham yang sebenarnya.
Akhir ayat ini memperingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang dikatakan, yang dianjurkan, yang disampaikan dan yang disembunyikan dalam hati orang kafir itu, serta segala yang mereka maksudkan dan inginkan. Karena itu Dia akan menetapkan hukuman yang adil bagi mereka dan Dia Maha Bijaksana dalam mengatur segala urusan Nabi dan para sahabat-sahabatnya.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Hai Nabi! Bertakwalah kepada Allah) teguhkanlah dirimu dalam bertakwa kepada Allah (dan janganlah kamu menuruti keinginan orang-orang kafir dan orang-orang munafik) dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariatmu. (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) apa yang akan terjadi sebelumnya (lagi Maha Bijaksana) di dalam mengatur urusan makhluk-Nya.
««•»»
O Prophet! Fear God, remain in fear of Him, and do not obey the disbelievers and the hypocrites, [and so follow them] in what contravenes your Law. Truly God is Knower, of what will happens before it happens, Wise, in what He creates.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Imam Tirmizi mengetengahkan sebuah hadis yang ia nilai sebagai hadis hasan yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa pada suatu hari Nabi saw. berdiri melakukan salat. Kemudian Nabi saw. melakukan sesuatu yang seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, maka orang-orang munafik yang salat bersamanya mengatakan, "Tidakkah kamu lihat, bahwa sesungguhnya dia mempunyai dua hati; yang satu bersama kalian dan yang satu lagi memikirkan dirinya".
Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya,
"Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya..."
(Q.S. Al Ahzab, 4).
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Khushayyif yang ia terima dari Said ibnu Jubair, Mujahid dan Ikrimah, yang semuanya menceritakan adanya seorang lelaki yang dikenal dengan julukan Dzul Qalbaini (Si Dua Hati), maka turunlah ayat ini.
Ibnu Jarir mengetengahkan hadis yang sama melalui jalur Qatadah yang ia terima dari Hasan, hanya di dalam riwayat itu ditambahkan, bahwa lelaki yang dijuluki si Dua Hati itu sering mengatakan, "Aku memiliki satu hati yang memerintahku dan satu hati yang lain, yang mencegahku". Ibn Jarir mengetengahkan pula hadis ini melalui jalur Ibnu Abu Nujaih yang bersumber dari Mujahid, yang menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari Bani Fahm yang mengatakan, "Sesungguhnya di dalam rongga dadaku ini ada dua hati; masing-masing mempunyai pandangan yang lebih baik daripada akal Muhammad".
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Saddi, bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kabilah Quraisy yang berasal dari Bani Jumah, ia kenal dengan nama Jamil ibnu Mu'ammar.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
««•»»
yaa ayyuhaa alnnabiyyu ittaqi allaaha walaa tuthi'i alkaafiriina waalmunaafiqiina inna allaaha kaana 'aliiman hakiimaan
««•»»
Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,
««•»»
O Prophet! Be wary of Allah and do not obey the faithless and the hypocrites. Indeed Allah is all-knowing, all-wise.
««•»»
Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin agar bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-perintah-Nya dan menghentikan semua larangan-larangannya, serta melarang Nabi dan kaum Muslimin agar jangan menuruti keinginan-keinginan orang-orang kafir yang pernah menganjurkan kepada beliau agar mengusir dari majelisnya orang-orang mukmin yang lemah dan miskin , demikian pula ayat ini melarang Nabi dan orang-orang mukmin mengikuti orang-orang munafik yang lahirnya mengaku sebagai seorang mukmin, tetapi hatinya tetap kafir, bahkan selalu berusaha dan bekerja sama dengan orang-orang kafir yang lain untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin.
Sebab turunnya ayat menurut suatu riwayat, bahwa Abu Sofyan, Ikrimah bin Abu Jahal, Abul A'war As Sulami datang ke Madinah setelah perang Uhud. Mereka ditemani oleh Abdullah bin Ubay, Abdullah bin Sa'ad bin Abu Sarah dan Tu'mah bin Ubairiq. Mereka datang ke Madinah setelah mendapat jaminan keamanan dari Nabi Muhammad saw.
Mereka berkata kepada Rasulullah saw yang di sisinya duduk Umar bin Khatab: "Hendaklah kamu hentikan mencela tuhan-tuhan kami Al Lata, Al Uzza dan Manat dan katakanlah: "Sesungguhnya tuhan-tuhan itu dapat memberi syafaat dan manfaat kepada orang-orang yang menyembahnya, agar kami membiarkan kamu menyembah tuhanmu". Rasulullah saw sangat merasa berat untuk menerima permintaan mereka itu. Maka Umar bin Khatab berkata: "Izinkanlah aku Ya Rasulullah membunuh mereka itu".
Rasulullah saw berkata:
"Sesungguhnya aku telah memberikan jaminan keamanan kepada mereka".
berkata Umar: "Masukkanlah mereka ke dalam laknat dan kemarahan Allah".
Maka Rasulullah saw memerintahkan kepada mereka agar keluar dari Madinah dan turunlah ayat ini.
(Al Wahidi, Asbabunnuzul, hal 236).
Berdasarkan ayat ini dan sebab turunnya, yang dimaksud dengan "menurutkan keinginan orang-orang kafir dan munafik", ialah "menurutkan keinginan mereka agar kaum Muslimin mengakui kepercayaan dan tuhan-tuhan mereka, mempercayai bahwa tuhan-tuhan mereka dapat memberi syafaat dan manfaat kepada orang-orang yang menyembahnya, mengakui syariat-syariat mereka sebagaimana mengakui syariat yang diturunkan Allah". Hendaklah kaum Muslimin waspada terhadap segala usaha orang-orang kafir dan munafik yang sengaja mengaburkan dan merusak agama dan kepercayaan mereka, sehingga pemahaman mereka terhadap agama mereka menjadi menyimpang dari paham yang sebenarnya.
Akhir ayat ini memperingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang dikatakan, yang dianjurkan, yang disampaikan dan yang disembunyikan dalam hati orang kafir itu, serta segala yang mereka maksudkan dan inginkan. Karena itu Dia akan menetapkan hukuman yang adil bagi mereka dan Dia Maha Bijaksana dalam mengatur segala urusan Nabi dan para sahabat-sahabatnya.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Hai Nabi! Bertakwalah kepada Allah) teguhkanlah dirimu dalam bertakwa kepada Allah (dan janganlah kamu menuruti keinginan orang-orang kafir dan orang-orang munafik) dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariatmu. (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) apa yang akan terjadi sebelumnya (lagi Maha Bijaksana) di dalam mengatur urusan makhluk-Nya.
««•»»
O Prophet! Fear God, remain in fear of Him, and do not obey the disbelievers and the hypocrites, [and so follow them] in what contravenes your Law. Truly God is Knower, of what will happens before it happens, Wise, in what He creates.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Imam Tirmizi mengetengahkan sebuah hadis yang ia nilai sebagai hadis hasan yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa pada suatu hari Nabi saw. berdiri melakukan salat. Kemudian Nabi saw. melakukan sesuatu yang seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, maka orang-orang munafik yang salat bersamanya mengatakan, "Tidakkah kamu lihat, bahwa sesungguhnya dia mempunyai dua hati; yang satu bersama kalian dan yang satu lagi memikirkan dirinya".
Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya,
"Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya..."
(Q.S. Al Ahzab, 4).
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Khushayyif yang ia terima dari Said ibnu Jubair, Mujahid dan Ikrimah, yang semuanya menceritakan adanya seorang lelaki yang dikenal dengan julukan Dzul Qalbaini (Si Dua Hati), maka turunlah ayat ini.
Ibnu Jarir mengetengahkan hadis yang sama melalui jalur Qatadah yang ia terima dari Hasan, hanya di dalam riwayat itu ditambahkan, bahwa lelaki yang dijuluki si Dua Hati itu sering mengatakan, "Aku memiliki satu hati yang memerintahku dan satu hati yang lain, yang mencegahku". Ibn Jarir mengetengahkan pula hadis ini melalui jalur Ibnu Abu Nujaih yang bersumber dari Mujahid, yang menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari Bani Fahm yang mengatakan, "Sesungguhnya di dalam rongga dadaku ini ada dua hati; masing-masing mempunyai pandangan yang lebih baik daripada akal Muhammad".
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Saddi, bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kabilah Quraisy yang berasal dari Bani Jumah, ia kenal dengan nama Jamil ibnu Mu'ammar.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 2]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#33:1
•[AYAT 2]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of73
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=33&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#33:1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar